Thursday, November 19, 2009

Berketetapanlah untuk menjadikan diri Anda sebagai alasan utama keberhasilan Anda

Bukankah alam menyediakan waktu, mengurutkan jalan menuju kemenangan hidup, dan mengijinkan penggunaan kekuatannya bagi keberhasilan semua orang - termasuk kita (Anda dan saya); maka mulai hari ini, berketetapanlah untuk menjadikan diri Anda sebagai alasan utama keberhasilan Anda. (MTST - We live to become)


Bila rencana alam ini untuk anda adalah menjadikan Anda pribadi yang cemerlang, cenderung-lah kepada yang mencemerlangkan (MTST - Measured Patience)


Pelajaran dan nasehat akan turun ke dalam hati, sebagaimana air turun ke tanah. Jika hati itu baik, bagaikan tanah yang subur, niscaya ia akan terbuka dan menerima, tumbuh dan berkembanglah kebaikan di dalamnya.

Hati menumbuhkan niat dan perasaan, kesan dan tanggapan, arah dan tekad. Sesudah itu menimbulkan perbuatan dan bekas dalam kehidupan nyata.

Ini adalah penelusuran terhadap bahasa jiwa dan apa yang terbetik dalam hati manusia, yakni menelusuri apa yang betul-betul diingini hati manusia, serta dugaan-dugaannya dengan cahaya dan kejelasan, dan ketepatan pengetahuan.

Sampai pada akhirnya kita mencapai suatu pemahaman yang utuh dalam tingkatan yang tidak mampu diungkapkan oleh oleh bahasa, yang membuat hati bergetar merasakan kebahagiaan, juga merasakan keagungannya.

Selanjutnya akan timbul rasa syukur dari hati yang baik, dan akan menunjukan respons dan kesan yang baik. Orang yang bersyukur yang menerima dan menyambut pengulangan dan pemaparan dari berbagai peristiwa yang terjadi, maka mereka-lah yang dapat mengambil manfaatnya, menjadi lebih baik karenanya dan melakukan perbaikan dengannya.

Sejarah manusia berjalan dalam jalinan yang saling mengikat, berinteraksi antara sebagian dengan sebagian lainnya. Berinteraksi dengan unsur-unsur yang terjalin dengannya dan dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Berbagai cobaan dan kesulitan silih berganti, ia dilempar-lemparkan oleh gelombang-gelombang dalam samudra kehidupan.

Semua itu terjadi karena kita adalah makhluk yang hebat, makhluk yang telah ditunjuk oleh Beliau Yang Maha Pengasih untuk mengemban tugas yang mulia. Sehingga semua yang kita alami dalam kehidupan ini, akan memberikan kesan yang dapat menggetarkan hati, dan menggerakkan dari dalam diri kita agar menapaki jalan kecemerlangan dengan penuh kesungguhan.

***

Thursday, November 12, 2009

Kita Membutuhkan Tuhan



Anda tidak akan tahu bahwa yang Anda butuhkan hanya Tuhan, sampai yang Anda miliki hanya Tuhan.

Perasaan tidak punya apa-apa lagi … Dan karena dia harus meminta pertolongan - diyakini-nya atau tidak, dia akan berpaling kepada Beliau, Yang Maha Pengasih.

Tetapi, setelah dia diselamatkan, apakah masih ada kemungkinan orang itu merasa ragu lagi?

Ya. Dan akan dibuat menemukan keyakinannya lagi. Dan kemudian dia ragu lagi. Dan diyakinkan lagi. Dan begitu, dan seterusnya … Sampai dia mengerti.

( MT – The Relevance of Religion in Business )

Gambaran yang seperti itu mengingatkan kita kepada anak kecil yang merasakan sebagian kekuatan pada kedua kakinya, kemudian dia melepaskan tangan yang membimbingnya dan menjadi sandarannya, karena merasa cukup dan mampu untuk mandiri.

Keberadaan kita beserta potensi dan segenap kekuatan yang dimiliki tidak cukup untuk berlepas tangan dari-Nya. Semua potensi dan kekuatan akan menjadi terbimbing, terarah dan lurus dengan bimbingan-Nya.

Apabila setelah itu ia melakukan kesalahan dalam penerapannya, maka kesalahan itu bagaikan kesalahan jam yang telah diatur patokannya, tetapi kemudian dikalahkan oleh unsur-unsur udara dan karakter logam-logam yang dapat menimbulkan pengaruh. Bukan seperti kesalahan jam yang sama sekali tidak pernah di-desain dengan aturan-aturannya atau dibiarkan berbenturan.

Adalah suatu hal yang mengherankan bila kita menganggap dirinya sudah serba mampu dan tidak membutuhkan apa-apa dari Tuhan.

Ukurannya bukan hanya pencapaian tingkat kebendaannya, karena kemajuan kebendaan itu dapat berkembang sesuai dengan sarana-sarana yang diciptakan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Akan tetapi, terletak pada keserasian dan keseimbangan antara semua bagian, yaitu keseimbangan yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman.

Oleh karena itu dalam perjalanan ini, ada saatnya kita berhenti sejenak untuk menundukan kepala dihadapan keluhuran dan keagungan Tuhan Yang Maha Agung yang tercermin di dalam pengetahuan, keadilan, pemeliharaan, karunia, kasih sayang, dan kebaikan-Nya kepada kita.

Thursday, October 22, 2009

Yuk melakukan tindakan nyata untuk meraih mimpi

Sahabat yang baik,
Mohon diterima butiran-butiran pengertian untuk kita semua dari Bapak Mario Teguh berikut ini, bahwa :

Bila tidak diingatkan, banyak orang yang sedang menjalani kehidupan tanpa kesadaran bahwa dia harus mencapai sesuatu. Itu sebabnya kita dianjurkan untuk mem-visi-kan apa yang akan kita capai dalam hidup ini; tidak hanya hidup dari satu keharusan ke keharusan berikutnya.

Visi itu mungkin pada awalnya adalah sebuah impian kecil, tetapi impian itu akan segera mengambil bentuknya yang lebih jelas setelah kita memberikan tanggal untuk tahap-tahap pencapainnya.

Cita-cita adalah mimpi yang bertanggal. Kemudian pastikanlah bahwa cita-cita itu didukung oleh kemampuan-kemampuan yang dibutuhkannya untuk menjadi kenyataan. Pastikanlah bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari menjadi proyek-prouek yang hasil-hasilnya akan menjadi sebuah besaran yang mengagumkan, paling tidak bagi diri ini.



Setelah kita mem-visi-kan apa yang ingin dicapai, selanjutnya kita berusaha untuk menghidupkan makna-makna besar yang dikandungnya, sehingga meresaplah ke dalam hati dan ter-aplikasi-kan dalam kehidupan.
Juga memantapkannya dalam bentuk yang hidup, yang dapat membangkitkan perasaan dan bukan hanya berhenti dalam batas-batas pemikiran.

Impian saja tanpa ditopang tindakan, dan tanpa menempuh jalan-jalannya tidak akan dapat memantapkan hakikatnya. Oleh karena itu yang paling tepat adalah untuk menghidupkan mimpi-mimpi itu dan menggerakkannya di dalam hati dan di dalam tindakan. Sehingga akan berdampak pada kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, karena:

Hidup ini terjadi dalam alam tindakan dan bukan dalam alam rencana. Sebagian besar dari kita telah cukup bermimpi, bercita-cita, dan telah cukup berencana. Yang kurang adalah tindakan nyata.

Berikutnya, bersyukurlah atas apa yang telah diberikan Beliau Yang Maha Pemberi, sehingga tidak akan padam cahaya indah yang dipancarkan di dalam jiwa, dan tidak redup kebahagiaan cemerlang di dalam hati. Juga tidak akan lenyap kesejahteraan hakiki yang melimpah di dalam hati dan jiwa.

***